Oleh: Zahrotul Farida 12C

Sumber foto: https://darul-muttaqien.com/santri-kelas-5-tmi-darul-muttaqien-ikuti-kegiatan-fathul-kutub-digital/
Tanggal 22 Oktober 2015 telah ditetapkan oleh presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada santri dan pondok pesantren yang telah berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Peringatan ini terus menerus disambut dan dirayakan meriah, khususnya kalangan pesantren. Beragam kegiatan digelar sebagai bentuk refleksi dan bentuk penghormatan kepada para kyai dan santri yang terdahulu.
Namun, peringatan Hari Santri di tahun-tahun belakangan memiliki nuansa berbeda karena berlangsung di era Generasi Z (Gen Z), generasi yang tumbuh bersama teknologi digital dan arus informasi yang sangat cepat.
Lantas, bagaimana Gen-Z memaknai Hari Santri serta apa peran mereka ditengah perkembangan zaman?
- Makna Hari Santri Era Gen-Z
Bagi gen-Z masa kini, hari santri bukanlah momentum refleksi jihad pada zaman dahulu, yakni jihad perlawanan fisik seperti masa lalu. seperti perang melawan penjajah, menyusun stretegi perang dan lain sebagainya. Jihad hari ini hadir dengan konteks berbeda yakni dengan melawan kebodohan, keterbelakangan, dan minimnya literasi. Para santri dituntut untuk melanjutkan perjuangan para ulama’ dengan cara yang relevan. Dan Bersiap menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan tanpa menghilangkan nilai nilai pesantren.
- Peran santri Gen-Z sebagai influencer positif
Salah satu karakter gen-Z adalah tidak bisa lepas dengan dunia digital, artinya gen-Z menjadikan dunia nyata dan dunia digital sebagai satu kesatuan yang tidak dibatasi dalam sebuah riset berjudul “Generation Z and Its Value Transformations: Digital Reality Vs. Phygital Interaction”. Dengan daya kreatif yang tinggi membuka peluang mereka menjadi influencer positif. Keahlian di bidang desain, konten digital, hingga aplikasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk-produk islami yang modern dan menarik. Misalnya, membuat aplikasi pembelajaran agama, podcast kajian Islami, atau video-video inspiratif tentang kehidupan santri yang relevan dengan gen-Z. Selain itu konten konten dakwah yang disampaikan akan lebih meluas dan dapat bermanfaat untuk memajukan peradaban Islam.
- Peluang dan tantangan santri Gen-Z
Di era ini marak budaya budaya asing yang terus masuk dan memengaruhi gaya hidup generasi muda, tak jarang dijumpai budaya yang tidak sesuai dengan identitas bangsa dan nilai nilai pondok pesantren. Oleh karena itu, santri harus menggunakan keahliannya sebagai pelopor kebaikan bergerak di era digitalisasi yang senantiasa memegang teguh ajaran agama, serta selalu berinovasi tanpa meninggalkan tradisi, dan peka dengan situasi. Adapaun peluangnya adalah gen-Z berkesempatan untuk memegang dan menjadi pemimpin transformasi di berbagai bidang seperti ekonomi kreatif berbasis digital hingga menjadi agen perubahan di masyarakat melalui dakwah digital yang kreatif dan efektif.
Memasuki Hari Santri ke-10, momentum ini menjadi ajakan refleksi bagi santri Gen Z agar tidak melupakan warisan dan amanah para ulama serta pendahulu. Santri diharapkan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan dengan mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dan perkembangan digital, tanpa kehilangan jati diri sebagai penjaga moral dan agama.
DAFTAR PUSTAKA:
Tolstikova, Irina, et al. “Generation Z and its value transformations: digital reality vs. phygital interaction.” International Conference on Digital Transformation and Global Society. Cham: Springer International Publishing, 2020.
Sakitri, Galih. “Selamat Datang Gen Z, Sang Penggerak Inovasi!.” Forum Manajemen. Vol. 35. No. 2. 2021.
Irina Tolstikova et al., “Generation Z and Its Value Transformations: Digital Reality Vs. Phygital Interaction,” in Communications in Computer and Information Science, vol. 1242 (Springer Science and Business Media Deutschland GmbH, 2020), 47–60, https://doi.org/10.1007/978-3-030-65218-0_4.